Beranda Catatan Anak-Anak Dalam Bahaya

Anak-Anak Dalam Bahaya

26
0
BERBAGI

Banyak kejadian tragis menimpa anak-anak di Priangan Timur. Mulai Garut, Tasik, Ciamis, Banjar. Ada korban pelecehan seksual, perdagangan manusia, narkoba, miras oplosan, hingga penganiayaan.

Kejadian di Purbaratu Kota Tasikmalaya, akhir Juni 2017. Dua siswi sekolah dasar ditemukan tergeletak di bebatuan Sungai Ciloseh. Kondisinya luka parah. Keduanya jadi korban penganiayaan sadis seorang remaja. Masih tetangga para korban.

Satu siswi itu tewas dengan beberapa luka bacok di tubuhnya. Seorang lagi kritis dengan luka parah di lehernya. Alhamdulillah, nyawanya masih bisa diselamatkan.

Pelaku penganiayaan sadis itu, seorang remaja putus sekolah. Pernah  dipenjara kasus pencurian. Begitu bebas, bukannya insaf. Malah menaikkan level kriminalnya: membunuh!

**

Desember 2017. Kita dikagetkan ulah remaja di Singaparna. Dia menyodomi delapan anak-anak siswa sekolah dasar.

Awal Januari 2018. Kita dikejutkan lagi peristiwa pilu. Seorang balita meninggal setelah disiksa bibinya sendiri. Gara-gara anak balita itu sering merengek. Bibinya jengkel. Berulang-ulang melakukan penyiksaan. Hingga berujung maut.

Selesaikah kasus anak?

Tidak. Malah bermunculan kasus baru. Ada anak jadi korban pelecehan seksual gurunya. Ada anak yang jadi korban hasrat seks sesat ayah tirinya. Terakhir, di Bulan Maret ini. Ada kegemparan di sebuah lembaga pendidikan terkenal. Dua siswa laki-laki jadi korban penganiayaan puluhan senior dan pengasuhnya. Para senior menganiaya bukan tanpa sebab. Pemicunya, hmmm, masih saling menutupi. Kasus ini berkembang ke ranah hukum. Pihak kepolisian menetapkan 23 senior sebagai tersangka penganiayaan.

Selesai?

Tidak. Dua hari lalu ada kehebohan lagi. Dua remaja usia 17 tahun, yang memilih hidup di jalanan, ditemukan mati. Diduga, over dosis minuman keras kelas oplosan!

Sebelumnya,  ada juga kisah jalanan. Beberapa remaja putri dilaporkan hilang. Rupanya, para remaja putri itu memilih hidup di jalanan. Bersama temannya para remaja lelaki. Mereka nyaman. Sekalipun hidup gegembelan. Mengemis. Mengamen.

Duh. Generasi masa depan. Kalian sudah dibuat rusak. Kisah tentang kalian hanya heboh sesaat saja. Sesudah itu terlupakan. Apes sekali dikau!

**

Masih ada harapan.

Kalimat yang diucapkan Tuan Guru Bajang, Kamis sore, 15 Maret 2018, saat talk show di Radar TV.  Kalimat itu sedikit melegakan.

Siap perangi pelecehan seksual terhadap anak-anak. Sikap tegas dilontarkan Ketua Generasi Muda  FKPPI Kabupaten Tasikmalaya Dr H Iwan Saputra. Walau baru teriakan, ini juga sedikit menggembirakan.

Belum ada perhatian. Adalah pengakuan jujur Ade Sugianto. Plt Bupati Tasikmalaya. Ini pun cukup membahagiakan. Setidaknya semakin memperjelas posisi anak-anak generasi penerus bangsa di mata penguasa. Ade mengaku prihatin dengan kasus yang terjadi mulai dari narkotika, narkoba, pelecehan seksual dan lainnya yang semuanya menjadi permasalahan bersama.

Selebihnya, perasaan saya semakin risau. Ternyata, kita semua gagap memperlakukan anak-anak generasi masa depan.

Minimalnya, anak-anak bisa dijamin aman hidup dan berkembang. Tidak jadi korban penganiayaan, pelecehan. Apalagi sampai jadi korban pembunuhan. Baik di lingkungan tempat tinggal. Pun di lingkungan sekolah.

Anak-anak itu, minimal terbebas dari target pasar para bandar miras. Apalagi kelas oplosan. Anak-anak itu, minimal bukan target pasar bisnis para penjaja narkoba. Baik kelas kambing, atau kelas mafia.

Anak-anak itu, minimal bisa dibesarkan dalam lingkungan sosial yang orientasi seksnya normal. Tidak jadi kader, apalagi  jadi mangsa para homo, lesbian maupun transgender.

Anak-anak itu, minimal diperlakukan seperti kata penyair Ghibran: mereka milik masa depan.

Seharusnya begitu. Ya begitulah anak-anak diperlakukan. Tetapi faktanya, kita semua gagap. Hanya pandai berkoar saja. Tidak paham dan tidak memiliki konsep yang jelas menjaga mereka. Mendidik mereka. Buktinya. Kisah pilu tentang anak-anak, remaja, terus terulang.

Nasibmu, nak. Memang apes!

**

“Kok, anda menulis saja. Kritik pedas. Langkah dan sikap anda sendiri bagaimana soal anak-anak ini?”

Jika saja ada pertanyaan demikian kepada saya, wow senang sekali. Silakan para bupati, para anggota dewan, para kepala dinas pendidikan, para guru, para orang tua, komite perlindungan anak, atau siapa saja yang peduli anak-anak, kita bertemu. Kita bahas langkah-langkah riil mendidik dan menyelamatkan anak-anak. Generasi masa depan bangsa ini.

Itu juga, kalau kalian semua serius. Plus benar-benar siap action! (*)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here