Beranda Jawa Barat Hardiknas di Cirebon Berujung Duka

Hardiknas di Cirebon Berujung Duka

66
0
BERBAGI

CIREBON – Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2018 masih sekitar 15 hari lagi. Atau tepatnya nanti 2 Mei. Para siswa SMPN 1 Gegesik, Kabupaten Cirebon, jauh-jauh hari sudah menyiapkan diri. Termasuk rutin mengikuti latihan menabuh gamelan. Rencananya akan ditampilkan saat perayaan Hardiknas 2018 tingkat Kecamatan Gegesik.

Kemarin, latihan rutin itu berujung duka. Sanggar Seni Hidayat Jati yang menjadi tempat berlatih itu tertimpa bangunan sarang burung walet. Siswa dan pembimbing terkubur. Sebanyak 7 orang meninggal dunia. Terdiri dari 5 siswa serta pemilik sanggar dan anaknya. Satu korban lagi dalam kondisi kritis dan kini menjalani perawatan di RSUD Arjawinangun.

Data yang dihimpun Radar Cirebon, 7 korban meninggal dunia yakni pemilik sanggar bernama Suherman (42) dan anaknya Arid (22), serta lima siswa masing-masing Ferdi (14), Adzikri (14), Andra (14), Suprapti (14), dan Fadia (13). Korban luka serius bernama Intan (14) kini dirawat intensif di RSUD Arjawinangun. Sementara satu korban luka ringan tak sampai dibawa ke rumah sakit bernama Fitria (14).

Vote

Taryana (44) warga Gegesik Lor yang sempat membantu mengevakuasi para korban mengatakan sekitar pukul 09.30 WIB dirinya melintas di sekitar lokasi kejadian. Tiba-tiba dia dikagetkan dengan banyaknya warga berlarian meminta pertolongan. “Saya ke situ ternyata sudah ambruk. Kondisi para korban sudah tertimbun reruntuhan dengan posisi tertelungkup,” ujar Taryana kepada Radar.

Saksi lainnya yang juga aparat Desa Gegesik Wetan (desa lokasi kejadian), Carsila, juga sempat ikut mengevakuasi para korban. Dia juga melihat korban selamat bernama Fitria. “Langsung kami evakuasi yang selamat. Fitri saat ditemukan dalam kondisi terduduk lemas. Dia masih shock. Sampai sekarang (sore kemarin, Red) saat ditanya tak bisa menjawab apapun karena trauma dengan kejadian itu,” jelas Carsila.

Carsila mengakui bangunan sarang burung walet yang ambruk itu merupakan bangunan tua. Bahkan sejak ia masik kecil, bangunan itu sudah ada. “Ya sudah puluhan tahun. Sampai sekarang saya sudah umur 38 tahun. Jadi memang sudah tua,” terang Carsila.

Dia mengatakan bangunan itu milik seseorang bernama Chok Pi. Chok Pi sendiri bukan warga Gegesik Wetan. “Itu (Chock Pie, Red) orang Kecamatan Arjawinangun. Itu dulunya jadi gudang minyak, lalu berubah menjadi sarang burung walet. Setelah itu kosong, tidak ada aktivitas sampai tiba-tiba ambruk ini,” ungkap Carsila yang ditemui koran ini usai dimintai keterangan di Mapolsek Gegesik.

Pantauan koran ini lokasi kejadian, antara bangunan sarang burung walet dan sanggar seni itu memang bersebelahan. Bahkan dindingnya masih berdempetan. Posisi bangunan burung walet lebih tinggi. Jadi ketika bagian atas ambruk, langsung menimpa bangunan yang ada di bawahnya. “Sanggar itu masih bagian dari rumah Pak Suherman (korban meninggal, Red). Tapi memang ruangannya terpisah dengan ruangan rumah. Jadi yang tertimpa itu ruangan yang dijadikan sanggar,” terang Carsila.

Suherman dan anaknya Arid juga dikenal sebagai guru seni, khususnya seni Cirebon. Saat Suherman memimpin latihan, biasanya didampingi Arid. Gamelan yang diajarkan biasanya untuk mengiringi pertunjukan wayang, tari topeng, atau beberapa seni tradisional lainnya.

Sementara itu, Kepsek SMPN 1 Gegesik, Suhardi, mengatakan para siswanya mengikuti latihan sebagai persiapan menjelang Hardiknas 2018. Kebetulan juga Gegesik merupakan salah satu kampung kesenian di Kabupaten Cirebon. Karena itu, para siswanya berlatih untuk bisa tampil di Hardiknas 2018 tingkat Kecamatan Gegesik.

Lokasi sanggar seni, kata Suhardi, selama ini dijadikan tempat latihan ekstrakurikuler bidang kesenian. Tidak hanya SMPN 1 Gegesik, beberapa sekolah lainnya di Kecamatan Gegesik juga biasa mengikuti latihan seni di sanggar seni tersebut. “Kami benar-benar tidak menyangka dengan kejadian ini. Mereka (para korban, Red) merupakan siswa-siswi kami yang punya prestasi di bidang kesenian,” ucap Suhardi.

Sementara itu Kapolres Cirebon AKBP Risto Samodra mengatakan pihaknya akan melakukan penyelidikan. “Pertama, kami turut berbelasungkawa atas kejadian ini. Soal penanganan, tentu akan kita coba selidiki. Kalau dilihat secara kasat mata, bangunan yang roboh ini memang sudah cukup tua. Aparat desa yang sempat kita periksa, mengakui itu bangunan tua. Tapi, kita tetap lakukan penyelidikan untuk mengungkap kebenarannya,” ujar kapolres. (cep/den/jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here