Beranda Nasional Ngobrol Rahasia soal Pilpres 2019, JK Penentu Cawapres Jokowi

Ngobrol Rahasia soal Pilpres 2019, JK Penentu Cawapres Jokowi

88
0
BERBAGI

JAKARTA – Tokoh nasional Mahfud MD dan Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi diam-diam berbicara empat mata terkait Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Sayang, isi pembicaraan dua tokoh ini dirahasiakan.

“Isi pembicaraannya tadi disepakati rahasia,” kata Mahfud sebelum mengisi acara talkshow bertajuk “Pancasila di Zamanku” di Universitas Mataram.

Mahfud sendiri dijamu TGB di Pendopo Gubernur NTB, Sabtu (7/4). Pertemuan berlangsung tertutup. Mahfud datang menggunakan batik merah. Saat keluar dari pendopo, Mahfud dan TGB nampak semringah, tersenyum, lalu menggendong Azadina putri kecil TGB.

Vote

Layaknya pertemuan seorang sahabat, suasana sore itu nampak cair. Mahfud mengaku, TGB adalah sahabat akrabnya. TGB merupakan seorang pemimpin, tokoh politik sekaligus tokoh agama yang sangat baik. Karena itu, sebagai sahabat, selagi ada ke Mataram, Mahfud menyempatkan mampir ke pendopo menemui TGB.

Dalam pertemuan itu, ia mengaku membicarakan banyak hal. Termasuk soal politik nasional, khususnya pemilihan presiden Indonesia.

Menurutnya, tokoh-tokoh yang muncul dalam Pilpres seperti petahana Joko Widodo (Jokowi), Prabowo Subianto, Gatot Nurmantyo, Muhaimin Iskandar, dan sebagainya merupakan sosok-sosok yang pantas. ”Bagus semualah, menurut pendukung masing-masing,” kelakar pria asal Madura itu.

Jika TGB maju dalam Pilpres, Mahfud menilai TGB merupakan salah satu pemimpin yang bagus. Orang sebaik TGB pantas didukung sebagai pemimpin di Indonesia. Semua orang punyak hak yang sama untuk memilih dan dipilih. ”Bersama yang lain nanti dia bersaing, kan bagus,” ujar mantan Menteri Pertahanan era Presiden Gus Dur itu.

Namun Mahfud enggan menjawab saat ia ditanya terkait kemungkinan dirinya maju dalam Pilpres mendatang. ”Saya sendiri mau minum kopi sekarang,” kelakarnya sambil mengambil segelas kopi di depannya.

Terkait pemilihan presiden, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu menilai persiapan Pilpres sudah bagus. Konstitusi sudah menyiapkan perangkat hukum, undang-undangnya sudah ada, teknis pemilihan sudah disiapkan. Sehingga ia berharap semuanya berjalan dengan baik, apalagi Pilpres merupakan agenda rutin tiap lima tahun. ”Tidak perlu tegang-teganglah,” harapnya.

Diperhitungkan menjadi salah satu calon wakil presiden, TGB sendiri mengaku bangga. Itu karena ada putra daerah NTB yang diperhitungkan dalam kontestasi kepemipinan nasional.  Ia sendiri mengapresiasi setiap aspirasi masyarakat yang mendukungnya maju. Baginya, itu merupakan kehormatan bagi semua warga NTB.

Jika TGB semakin dikenal banyak orang, maka nama NTB juga akan terangkat. Sebab TGB tidak bisa dipisahkan dengan NTB sebagai daerah asal. Karenanya, ia berharap anak muda NTB lebih percaya diri bersaing di tingkat nasional.

Dengan kesempatan yang terbuka seperti saat ini, ia percaya anak NTB pasti bisa bersaing. ”Dalam bidang apa pun, selama kita diberi ruang yang fair anak-anak NTB bisa berkompetisi,” katanya.

JK Penentu Cawapres Jokowi

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) akan menjadi salah satu sosok penentu calon wakil presiden untuk Jokowi di pilpres 2019 mendatang. Hal itu diungkapkan Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (Sekjen PDIP), Hasto Kristiyanto. ”Pihaknya akan mendengarkan masukan dari Pak JK mengenai kriteria cawapres. Jadi JK merupakan salah satu penentu juga,” ungkap Hasto kepada wartawan di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Pusat, Minggu (8/4).

Menurutnya, sosok JK merupakan tokoh bangsa yang memiliki pengalaman atas hal itu. Apalagi, dia terpilih sebanyak dua kali di posisi Wakil Presiden. PDIP saat ini juga membutuhkan sosok tepat untuk mendampingi Jokowi di pilpres 2019. ”Karena itu kami mendengarkan masukan dari Pak JK, karena beliau adalah tokoh nasional yang sangat memiliki pengalaman,” jelasnya.

Bukan cuma dengan JK, Hasto mengaku, pihaknya juga akan berdiskusi dan melakukan penjaringan bersama dengan seluruh ketua partai pendukung, serta bersama Jokowi sebagai bakal calon diusung PDIP. ”Saya tentu saja yakin Pak Jokowi terus melakukan proses scanning politik itu,” tutur Hasto.

Dia juga memastikan, Joko Widodo tidak akan melawan kotak kosong dalam pemilu 2019 mendatang. Menurutnya, demokrasi baru bisa berjalan secara baik ketika terjadi kontes gagasan untuk mencari seorang pemimpin. ”Kami meyakini bahwa Pilpres dipastikan tidak ada kotak kosong karena demokrasi memerlukan sebuah syarat adanya kontes gagasan untuk mencari pemimpin yang baik,” jelasnya.

PDIP, kata Hasto, akan menjalankan komunikasi dengan seluruh partai politik untuk membangun konsensus nasional. Hal itu harus ada sebuah terobosan baru yang dilakukan partai politik untuk mencari pemimpin. Namun, bagi PDIP, NasDem, Golkar, PPP, Hanura, PSI dan Perindo, pemimpin yang paling baik saat ini hanyalah Jokowi. Hasto menyampaikan, cawapres pendamping Jokowi hendak dibahas setalah penyelenggaraan pilkada serentak, Juni 2018, bersama para petinggi partai pengusung dan Jokowi.

Di lokasi yang sama, Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto membenarkan jika pembahasan cawapres Jokowi hendak dilakukan usai pelaksanaan Pilkada serentak. ”Jadi kelak (cawapres, Red) akan dibahas usai Pilkada, Juli nanti,” singkatnya.

 

Sementara, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tetap berharap bisa menempatkan kadernya untuk duduk sebagai calon Wakil Presiden di Pilpres 2019 mendatang. Jika PKS menaruh harapan kepada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, PKB menggantungkan harapannya kepada Joko Widodo (Jokowi).

Presiden PKS, Sohibul Iman menyatakan, partainya masih melakukan komunikasi politik dengan Partai Gerindra dan Prabowo Subianto. PKS mengaku telah menyodorkan sembilan nama untuk diusung sebagai cawapres. ”Sudah kami sampaikan pada Pak Prabowo. Kalau mau berkoalisi dengan kami, inilah calon dari kami. Kami tahu diri, kami (PKS, Red) tujuh persen, Pak Prabowo 13 persen, sudah pasti capresnya dari beliau kita cawapres,” kata Sohibul di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Minggu (8/4).

PKS mengaku, akan memperjuangkan posisi cawapres ini. Mereka tetap meminta posisi RI-2 untuk Pilpres mendatang di koalisi. Oleh sebab itu, PKS takan merapat kepada Jokowi karena sulit partai dakwah masuk ke koalisi PDIP. Alasannya, adalah hitung-hitungan rasional politik.

”Pak Jokowi didukung sembilan partai, ada sekian cawapres. Nah, kalau kami masuk di situ, boro-boro jadi capres, jadi cawapres pun nggak mungkin. Padahal, amanat Majelis Syuro jadi capres atau cawapres. Ini bukan masalah like atau dislike, tapi hitungan rasional politik, gitu aja,” lanjutnya.

Terpisah, Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Cucun Ahmad Syamsurijal mengatakan, PKB tidak akan mengusung cawapres yang bukan berasal dari internal partainya. Mereka tetap menginginkan ketua umumnya, Muhaimin Iskandar menjadi pendamping Jokowi. PKB, sambung Cucun, akan memperjuangkan ketua umumnya untuk berpasangan dengan Jokowi. Karena itu, PKB tidak akan mendukung atau pun mengusung calon yang bukan berasal dari internal partainya.

Menurut dia, semua partai mungkin mendukung calon yang bukan merupakan ketua umum partainya sendiri. ”PKB memiliki ketua umum partai sediri, untuk apa dukung yang lain. Semua kader sudah kuat agar Cak Imin (Muhaimin Iskandar, Red) jadi cawapres Jokowi,” kata Cucun, kemarin.

Anggota DPR RI Komisi IV itu mengatakan, PKB merupakan parpol yang memiliki basis ideologi dan struktur yang organik seperti Nahdlatul Ulama (NU). Sehingga NU punya basis suara yang diperhitungkan. Bahkan, Cucun berspekulasi jika capres tidak melibatkan NU maka tidak memiliki kekuatan suara dalam pemilu. Karena itulah, ia mengatakan jika basis NU tidak bisa dianggap enteng.

Cucun menegaskan, elektabilitas seorang calon didukung pula oleh sisi elektoralnya. Karenanya, seorang calon akan diperhitungkan dari sisi modal elektoral dari struktur organik. Kalau pun calon independen itu memiliki electoral person yang cukup baik, tapi ia tidak memiliki mesin yang menggerakkannya. Ini berbeda dengan ketua umum partai. Sekalipun electoral personnya kecil, namun ia punya mesin partai. (aen/jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here