Beranda Kota Tasik Ojek Online Ancam Mogok, Akibat Perang Tarif Penyedia Aplikasi

Ojek Online Ancam Mogok, Akibat Perang Tarif Penyedia Aplikasi

5
0
BERBAGI

TASIK – Aksi unjuk rasa dilakukan ratusan ojek online (Ojol) Tasikmalaya dengan mengeruduk kantornya yang berlokasi di komplek Tasik Indah Plaza (TIP), Selasa (27/3). Mereka protes terkait kebijakan penetapan tarif yang terlalu murah dari sebelumnya.

Koordinator aksi Asep Saepudin menuturkan unjuk rasa tersebut didasari rasa keberatan dari para driver. Pasalnya tarif dasar yang sebelumnya Rp 6.400 diturunkan menjadi Rp 4.000. “Itu sangat memberatkan sekali bagi kami,” ujarnya kepada wartawan.

Ditambah, pihaknya mempertanyakan kepedulian manajemen (penyedia aplikasi, Red) kepada driver yang sering bergesekan di lapangan. Contoh kasus saat keterlibatan manajemen dalam perkara penganiayaan di Indihiang beberapa waktu lalu pun tidak jelas. “Tapi kita lihat respons dari pihak manajerial seperti apa,” katanya.

Maka dari itu, para driver berencana mogok beroperasi jika dalam tiga hari kedepan tidak ada respons dari pihak manajemen. Karena menurutnya driver ojek online punya peranan penting. “Mereka (Gojek) tidak ada apa-apanya tanpa driver,” katanya.

Sementara itu,  pihak manajemen enggan memberikan keterangan saat hendak diwawancarai oleh wartawan. Hanya saja pihaknya sempat mengungkapkan akan mengevaluasi kebijakan tersebut.

**Penghasilan Minim

Aksi unjuk rasa pun dilakukan ribuan pengemudi ojek online (Ojol) di kawasan Monas Selasa (27/3) mendapat respon dari istana. Bahkan, Presiden Joko Widodo menemui langsung perwakilan pendemo di Istana Merdeka, Jakarta.

Dalam pertemuan sekitar pukul 13.30 WIB tersebut, ada lima perwakilan Ojol yang diterima Presiden didampingi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Sekretariat Negara Pratikno dan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.

Seusai pertemuan yang berlangsung 20 menit itu, Budi mengatakan pemerintah mendengar aspirasi para pengemudi Ojol. Di situ, mereka mengeluhkan rendahnya tarif yang ditetapkan perusahaan akibat adanya perang tarif antar penyedia aplikasi.

Berdasarkan cerita perwakilan Ojol, tarif yang berlaku di salah satu penyedia aplikasi adalah yang Rp 1600 per kilometer. ”Jadi kalau 6 kilometer itu baru dapat sepuluh ribu, jadi mereka merasa kurang,” kata Budi. Idealnya, pengemudi Ojol menginginkan tarif Rp 2500 per kilometer.

Untuk merealisasikan tuntutan itu, pemerintah rencananya akan melakukan mediasi. Antara pengemudi online dengan penyedia aplikasi. ”Rencananya akan mediasi besok (hari ini, Red),” imbuh Budi.

Presiden Jokowi menambahkan pihaknya sudah meminta Menteri Komunikasi dan Informatika Rudi Antara untuk mengumpulkan para penyedia aplikasi. ”Diundang plus termasuk graber-grabernya diajak bicara. Intinya dicari jalan tengah agar tidak merugikan,” ujarnya.

Terkait solusi yang akan ditawarkan pemerintah, mantan Wali Kota Solo itu belum bisa membeberkan. Namun, secara pribadi, pihaknya mengusulkan agar ada patokan tarif bawah, dan harga atas. ”Mungkin ke situ, tapi belum. Besok akan diputuskan setelah pertemuan itu dilakukan,” imbuhnya.

Untuk diketahui, saat ini, aturan terkait tarif atas dan bawah baru berlaku untuk angkutan taksi online. Ketentuan tersebut berlaku sejak tahun lalu setelah keluarnya peraturan menteri perhubungan (Permenhub) Nomor 108 tahun 2017. (rga/jpg/far/ang)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here