SHARE
BEBENAH. Para Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan Cihideung membereskan lapaknya Jumat (17/6/2022) sore. Pemerintah belum punya konsep pasti untuk menata mereka saat kawasan semi pedestrian diterapkan.RANGGA JATNIKA/radartasikmalaya.com

CIHIDEUNG, RADSIK – Penataan kawasan pusat kota tidak lepas dengan persoalan pedagang kaki lima (PKL). Namun demikian, Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya belum punya konsep pasti untuk penataan para pedagang kecil itu.

Sebagian kawasan HZ Mustofa dan Jalan Cihideung akan dijadikan area pedestrian. Konsepnya mengadopsi Malioboro Yogyakarta di mana trotoar akan diperlebar dan bisa mengakomodir pejalan kaki juga pedagang.

Pembangunan pun rencananya akan dimulai pada Juli 2022. Kendati pembangunan sudah dekat, pemkot belum punya konsep pasti untuk penataan PKL Jalan Cihideung.

Saat dikonfirmasi, Sekretaris Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (KUMKM Perindag) Rita Melia mengaku belum mengetahui konsep penataan PKL untuk kawasan semi pedestrian. Karena kapasitasnya lebih kepada pembinaan, bukan penempatannya. ”Kami kan lebih kepada sisi UMKM-nya,” tuturnya, Jumat (17/6/2022).

Pihaknya pun mengaku kerap mendapat pertanyaan, khususnya dari PKL Cihideung. Namun karena memang belum ada konsepnya, pihaknya pun belum bisa memberikan penjelasan apa-apa. ”Kalau yang menanyakan tentu ada, tapi kami belum bisa jawab,” ujarnya.

Untuk konsep penataan harus berdasarkan dari tim lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Karena kawasan tersebut melibatkan berbagai dinas agar bisa singkron. ”Tidak bisa kalau kita bergerak sendiri,” ucapnya.