Beranda Selebriti Raper Iwa K Bangkit lewat Konser Batman Kasarung setelah Terjerat Narkoba

Raper Iwa K Bangkit lewat Konser Batman Kasarung setelah Terjerat Narkoba

81
0
BERBAGI

Atraktif dan penuh aura positif, raper Iwa K merayakan 25 tahun karirnya dengan menggelar konser Batman Kasarung. Nama Batman Kasarung dipilih lantaran personifikasi Iwa muda yang suka keluyuran tiap malam seperti kelelawar. Itu konser pertama sejak 1994.

GLANDY BURNAMA, Jakarta

SUARA penonton langsung riuh begitu Iwa K naik ke panggung Rabu malam itu (4/4). Dalam konser yang berlangsung di The Pallas, SCBD, Jakarta, raper berusia 47 tahun yang mengenakan kaus basket tersebut tampil begitu energik lebih dari dua jam. Efek narkotika jenis ganja yang pernah dia pakai seolah sudah hilang. ”Malam ini bakal jadi malam yang indah,” kata Iwa sebelum melantunkan Malam Ini Indah.

Vote

List lagu yang dipilih pun mewakili tiap fase karirnya. Lagu Bebas, Tikus Got, Nombok dong, dan Kram Otak sukses membuat para penonton bernyanyi dan bergoyang. Lantas, di lagu-lagu slow seperti Kuingin Kembali, Penantian, dan Lovely Day, Iwa menampilkan sisi yang lebih kalem. Selain tampil solo, Iwa menggandeng beberapa bintang tamu. Dia mengajak Saykoji, Ramengvrl, Yacko, Neo, Nikita Dompas, dan Sweet Martabak. Bagi Iwa, mereka semua adalah para pejuang musik hiphop yang konsisten. ”Mereka berkarya nggak cuma pas hiphop populer, tapi juga di saat hiphop turun pamor,” papar Iwa.

Batman Kasarung dipilih sebagai nama konser karena merupakan personifikasi Iwa yang suka keluyuran tiap malam. Dengan mengangkat nama itu, Iwa ingin menunjukkan bahwa konser tersebut adalah simbol perjalanan dirinya selama 25 tahun. ”Saya mengalami banyak naik-turun, belok kanan-kiri, dan ada beberapa musibah. Tapi, semua itu bikin saya jadi seperti sekarang,” katanya saat konser.

Salah satu bintang tamu di konser tersebut adalah aktor Gading Marten. Iwa dan Gading sempat tergabung dalam proyek S.O.B, di mana mereka sering tampil di berbagai pesta. Keduanya sempat bercanda di panggung. Tepat saat Iwa hendak membawakan lagu The Next Episode dari Dr. Dre, Gading tiba-tiba naik ke panggung. Tanpa ragu, putra aktor Roy Marten itu menegur Iwa. ”Woi woi, ngapain nyanyi lagu begituan? Inget lho, abis masuk pesantren,” kata Gading, membuat penonton tertawa.

Lagu The Next Episode memang memiliki lirik tentang mengisap ganja. Pesantren yang dimaksud Gading adalah RSKO Cibubur, tempat Iwa menjalani rehabilitasi. Iwa pun tertawa. ”Makasih udah ngingetin gue, Ding,” katanya. April 2016 Iwa tertangkap di Bandara Soekarno-Hatta karena membawa ganja. Dia mengaku menggunakannya agar lebih fokus. Akhirnya, selama enam bulan Iwa masuk RSKO Cibubur untuk direhabilitasi. Oktober 2017 Iwa bebas dan mulai beraktivitas.

Saat ditemui Kamis malam (12/4) di kawasan SCBD, Jakarta, Iwa menceritakan perjuangannya selama menjalani rehabilitasi. Kali pertama masuk RSKO, Iwa merasa sangat sedih. ”Hal terberat yang saya rasakan adalah berpisah dengan keluarga,” kata Iwa. Iwa bisa dibilang family man. Di sela pekerjaannya, Iwa selalu pulang ke rumah untuk bertemu dengan istri dan anak-anaknya. Hari-hari pertama di RSKO Cibubur dilalui Iwa dengan pikiran yang dipenuhi bayang-bayang keluarga. Yakni sang istri Wikan Resminingtyas serta kedua anaknya, Kiara Janna Kusuma dan Mikala Saka Pandhya Kusuma. ”Seperti ada sesuatu yang hilang kalau pisah sama mereka,” katanya. Bagi Iwa, berpisah dengan keluarga adalah bentuk hukuman terberat.

Walaupun sedih, Iwa tak mau tampil sebagai orang yang kalah. Penangkapan di Bandara Soekarno-Hatta dianggapnya sebagai bentuk pertanggungjawaban. ”Saya berani berbuat itu (menggunakan ganja, Red), ya harus menerima konsekuensinya dong,” katanya. Dia menerima setiap hal yang harus dijalani dengan lapang dada agar terasa lebih ringan. Dia pun mulai membiasakan diri dengan kehidupan yang terisolasi. Misalnya makan. Dia dan peserta rehabilitasi lain hanya makan segala sesuatu yang disajikan RSKO. Kala itu Iwa sebenarnya mengaku kangen masakan sang istri. ”Wikan sering bikinin saya telur puyuh balado sama gulai,” katanya, lantas tertawa santai.

Hari-hari di tempat rehabilitasi diisi Iwa dengan pikiran positif. Walaupun merasa berat karena berpisah dengan keluarga, dia tetap bersyukur dan santai. Setiap sesi rehabilitasi bersama petugas dia ikuti dengan senang hati. ”Saya bersyukur, karena lewat proses ini saya seolah ditegur atas tindakan saya. Supaya nggak keterusan,” katanya. Iwa menganggap proses rehabilitasi itu sebagai hadiah, bukan musibah. Selama berada di RSKO, dia punya banyak kesempatan untuk memperbaiki diri. Memperbanyak salat dan berkontemplasi dilakukan Iwa selama mengikuti rehabilitasi. Menurut dia, masuk rehabilitasi memberinya banyak waktu untuk dekat dengan Tuhan. ”Daripada mengeluh, cuma tambah beban aja, kan?” imbuhnya.

Dia pun enggan berdiam diri. Selama rehabilitasi, Iwa membawa jurnal kecil. Di jurnal itu, setiap hal dia tulis. Entah berupa perasaan, pikiran, atau apa pun yang dia dapat selama menjalani proses rehabilitasi. Kumpulan tulisan tersebut akan menjadi materi untuk karya-karya dia selanjutnya. Salah satunya lagu Sans yang baru saja dirilis. ”Liriknya tentang bersikap santai atau sans terhadap apa pun yang orang lain katakan,” timpal Iwa.

Selain Sans, ada dua lagu lagi dengan lirik yang berasal dari tulisan jurnal selama berada di RSKO Cibubur. Dua lagu tersebut masih digarap. Karena itu, Iwa masih enggan memaparkan secara detail lirik dan musiknya. ”Pokoknya, selama direhab, saya tetap produktif dan berkarya,” ujarnya. Iwa pun punya banyak kegiatan positif selama direhabilitasi. Salah satunya berolahraga agar tak bosan. ”Saya main basket, badminton, pingpong, sama voli juga,” sahutnya. Dengan demikian, dia bisa mengalihkan pikiran ke hal yang lebih positif.

Di samping menulis jurnal dan olahraga, ada hal lain yang membuat Iwa merasa bahagia di tempat rehabilitasi. Yakni bertemu dengan sesama pejuang rehab. Di sesi rehabilitasi atau di waktu luang, banyak mantan pengguna yang ngobrol atau curhat bersama. Dia dan para mantan pengguna itu saling memberi dukungan dan dorongan untuk menjadi lebih baik. Iwa jadi merasa tidak sendiri. Saking seringnya menjadi sosok yang diajak sharing, dia bahkan ditunjuk sebagai koordinator residen oleh tim konselor rehabilitasi. Artinya, dialah yang mengoordinasi para peserta rehab agar bisa mengikuti kegiatan rehabilitasi secara tertib.

Hal lain yang juga membuat Iwa bersemangat menjalani rehabilitasi adalah kunjungan keluarga dan sahabat. Dua kali dalam seminggu keluarga dan sahabat akan datang untuk membesuk. Wikan tak henti memberikan semangat untuk sang suami. Iwa pun punya waktu untuk bercengkerama dan bercanda dengan kedua anaknya. ”Waktunya cuma tiga jam. Tapi, itu berkualitas banget,” kata Iwa.

Wikan pun berkali-kali menasihati Iwa. Dia tak ingin Iwa berbuat tolol lagi. Iwa pun menyesal karena telah berbuat sesuatu di luar harapan keluarga dan orang-orang terdekatnya. Itulah yang menjadi motivasi Iwa untuk menjauhi narkotika. Iwa setuju jika proses rehabilitasi disebut sebagai ”masuk pesantren”. Berkat proses itu, dia menjadi lebih baik dan bijaksana. Dia diingatkan untuk menghargai hal-hal kecil, termasuk keluarga, setelah merasakan sedihnya berpisah dengan orang yang dikasihi. Juga, dia belajar banyak hal yang membuatnya lebih berhati-hati dalam hidup.

Setelah menjalani rehabilitasi selama enam bulan, Iwa akhirnya bisa melepas rindu dengan keluarga. Hari pertama keluar dari RSKO Cibubur dia habiskan bersama keluarga. ”Saya pokoknya di rumah buat main sama anak-anak dan ngobrol banyak dengan istri,” tutur Iwa. Walaupun terdengar klise, Iwa menilai hal tersebut paling indah. Bertepatan dengan keluarnya Iwa dari rehabilitasi, Remon Nessa, manajer sekaligus teman dekatnya, mengingatkan dirinya tentang rencana konser.

Sebenarnya konser Iwa akan diadakan lebih awal. Sayang, karena kasus yang melanda Iwa, konser itu terpaksa ditunda. ”Kebetulan, saya ketemu sama pihak promotor Kayana Delapan. Mereka masih menawarkan apakah mau konser,” kata Remon. Remon pun setuju. Dia lantas mengingatkan Iwa tentang rencana konser yang tertunda. Momennya pun pas, di mana karir Iwa sudah mencapai 25 tahun sejak merilis album pertama pada 1993. Iwa kali terakhir mengadakan konser pada 1994. Lebih dari 20 tahun lalu. ”Awalnya mau dibikin showcase kecil. Tapi, akhirnya kami bikin konser aja supaya berkesan,” tutur Remon.

Remon menilai Iwa sangat antusias setelah menjalani rehabilitasi selama enam bulan. ”Dia memang ingin berkarya lagi setelah rehab. Ibarat hape, dia sudah di-recharge,” papar Remon. Mulai Januari 2018, Iwa, Remon, dan tim manajemen mempersiapkan konser. ”Tiap hal detail dia (Iwa, Red) perhatikan dan persiapkan dengan semangat,” ucap Remon.

Remon menambahkan, cukup banyak sahabat Iwa yang menanti comeback sang raper. Saat konser pun, Iwa mengaku sama sekali tidak menyesal dengan segala hal yang terjadi di hidupnya. Baik prestasi maupun musibah, semua disyukuri Iwa.

”Prinsip saya, pokoknya no regrets. Segelap apa pun masa lalu saya, itu semua ada gunanya,” ujarnya. Iwa juga semakin bersemangat untuk proyek selanjutnya. Dia pun mengaku lebih menghargai setiap hal kecil dan banyak bersyukur. (*/c11/oki/jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here