Beranda Rakyat Garut Situs Pasir Lulumpang Garut Peninggalan Zaman Megalitikum

Situs Pasir Lulumpang Garut Peninggalan Zaman Megalitikum

102
0
BERBAGI
CAGAR BUDAYA. Situs Pasir Lulumpang di Kampung Cimareme Desa Cimareme Kecamatan Banyuresmi merupakan salah satu lokasi cagar budaya peninggalan zaman megalitikum Sabtu (24/3). foto; RADIKA ROBI RANDANI / RAKYAT GARUT

BANYURESMI – Situs Pasir Lulumpang di Kampung Cimareme Desa Cimareme Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut merupakan salah satu situs cagar budaya di Garut. Situs itu memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai lokasi wisata budaya.

“Situs ini sangat layak dikembangkan sebagai objek wisata budaya unggulan yang memiliki daya tarik. Terutama bagi kalangan pelajar atau mahasiswa yang berminat di bidang sejarah dan purbakala,” ujar Iin, juru kunci Situs Pasir Lulumpang kepada Rakyat Garut, Sabtu (24/3).

Menurut Iin, situs ini memiliki luas 182 tumbak atau kurang lebih 2.500 meter persegi. Situs ini diduga merupakan peninggalan zaman megalitikum yang berusia kira-kira 4.000 tahun sebelum Masehi. Sayangnya, keberadaan situs tersebut jarang diketahui orang. Bahkan, masyarakat Garut sendiri.

“Saya berharap pemerintah lebih merawat lagi salah satu warisan budaya ini. Alangkah baiknya jika dijadikan objek wisata, agar anak dan cucu kita tau ada tempat bersejarah ini,” harapnya.

Kasi Kepurbakalaan dan Cagar Budaya Disparbud Garut Dra Sri Kusni Madyaningsih mengatakan Situs Pasir Lulumpang ditemukan pada bulan November tahun 1993. Pada bulan Juni 1994 dan bulan Februari 1995, tim Balai Arkeologi Bandung melakukan peninjauan ke lokasi situs tersebut.

“Pada zaman megalitikum, tempat itu memiliki fungsi sebagai tempat religius atau pemujaan dan mengindikasikan ada tanda kehidupan manusia di masa lalu,” jelasnya.

Untuk menjadikan situs tersebut sebagai lokasi wisata, kata Sri, harus ada penataan di berbagai aspek agar memiliki daya tarik. Termasuk sarana prasarana. Sebab, situs tersebut berupa punden berundak dari bebatuan. Tidak akan menarik bagi wisatawan.

“Tidak mudah menata tempat bersejarah tersebut. Sebab sebuah lokasi wisata itu harus memiliki daya tarik. Jika hanya melihat batu saja, saya rasa akan sangat sulit. Karena bagaimanapun juga, wisatawan yang datang itu pastinya ingin melihat yang menarik,” pungkasnya.

(obi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here